Diposkan pada Agama

Berqurban, cara mendekatkan diri dengan Allah

Setelah berpisah dengan bulan suci Ramadhan, sebentar lagi umat islam dihadapkan kembali dengan bulan suci yaitu bulan Dzulhijjah dimana pada bulan tersebut identik dengan sebutan bulan haji, namun selain itu ada ibadah yang juga disyariatkan islam yaitu menyembelih hewan qurban.

Dalam Al Qur’an disebutkan di Surat Al An’am ayat 162 – 163.
Allah subhanahu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

{ قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163) }

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS Al-An’am: 162-163)

Sebelum masuk ke persiapan ibadah qurban, mari kita simak apa pengertian qurban. Qurban berasal dari bahasa Arab, “Qurban” yang berarti dekat (قربان). Kurban dalam Islam juga disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.

Lalu apakah hukum ibadah qurban?
Hukum ibadah qurban oleh para ulama terdapat beberapa pendapat, diantaranya:
1. Diwajibkan bagi orang yang mampu
Pendapat pertama datang dari Abu Yusuf dalam salah satu pendapatnya, seorang ulama dari madzab Hanafi ini berpendapat bahwasanya ibadah Qurban adalah suatu kewajiban bagi orang yang mampu, pendapat ini diikuti oleh Rabi’ah, Al Laits bin Sa’ad, Al Awza’i, Ats Tsauri, dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya. Dasar dari pendapat ini berasal dari dalil Al Qur’an surat Al Kautsar ayat 2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Dirikanlah shalat dan berkurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2)

Dalil tersebut menunjukkan kata perintah dan asal perintah adalah wajib. Dasar kedua berasal dari Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا
“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rizki) dan tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah no. 3123. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

2. Disunnahkan dan tidak wajib
Jumhur ulama lebih condong kepada pendapat kedua ini yaitu hukumnya adalah sunnah muakad. Diantara ulama yang berpendapat sunnah muakad adalah ulama dari golongan Hambali, Syafi’i, dan salah satu pendapat dari Imam Malik serta Abu Yusuf. Sebelumnya Abu Bakr As Shiddiq dan Umar bin Khattab juga berpendapat demikian. Hal ini berdasar dari Hadits dari Ummu Salamah Rasulullah pernah bersabda,
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
“Jika masuk bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.”HR. Muslim no.1977
Dari kedua pendapat diatas sudah selayaknya bagi orang yang mampu hendaknya dapat melakukan ibadah Qurban karena ibadah ini dapat membuat hambanya semakin dekat dengan-Nya, Wallahu’alam.

Apa saja syarat hewan untuk dijadikan Qurban?
Hewan yang dijadikan sebagai Qurban merupakan hewan ternak tertentu seperti onta, sapi dan kambing. Dalilnya adalah firman Allah dalam surat Al Hajj ayat 34 yang artinya, “Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).” Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul Mumti’, III/409)

Selain itu ada syarat tertentu lainnya yaitu:

1. Berusia jaza’ah ( setengah tahun) dari domba atau tsaniyyah ( setahun penuh) dari yang lainnya.
a. Ats-Tsaniy dari unta adalah yang telah sempurna berusia lima tahun
b. Ats-Tsaniy dari sapi adalah yang telah sempurna berusia dua tahun
c. Ats-Tsaniy dari kambing adalah yang telah sempurna berusia setahun
d. Al-Jadza’ adalah yang telah sempurna berusia enam bulan
2. Hewan tidak cacat
3. Hewan adalah kepunyaan sendiri atau diizinkan jika digunakan untuk berqurban

-Alma Durotun Nasiha

Referensi:

https://muslim.or.id/446-fiqih-qurban.html
https://almanhaj.or.id/1711-syarat-syarat-hewan-kurban.html
https://rumaysho.com/1981-hukum-berqurban.html
https://muslimah.or.id/4382-hadits-tentang-qurban-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html
https://www.amalqurban.com/pengertian-qurban-secara-lengkap-dengan-penjelasannya/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s